QuranBest (Free)

150juta++ halaman Al Quran telah dibaca

Mencium Tangan Kiyai, Sunah Siapa?

Kadang ada yang nyinyir ketika ada kyai yang tangannya diperebutkan jamaahnya untuk dicium. Dituduhnya semua kyai suka menyodor-nyodorkan tangannya agar dicium. Dikiranya kyai gila hormat. Ya, jika ada kyai seperti itu bisa jadi kyai magang. Lantas sebenarnya bagaimana hukum mecium tangan orang yang dianggap alim itu sendiri? Sunnah siapakah cium tangan itu?

A. Hadits tentang Mencium Tangan
Jika kita mau melihat lagi hadits-hadits Nabi secara lebih komprehensif, akan kita temukan kisah-kisah para salaf [yang benar-benar salaf secara zaman dan manhaj] mengenai hal ini. Hadits-hadits shahih tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, Az-Zarra’; shahabat Nabi mencium tangan dan kaki Nabi

Dari Az Zarra’ al Abidiy dia termasuk utusan Abdu Qais berkata: “Ketika kami sampai ke Madinah, kami bergegas turun dari kendaraan kami lalu kami mencium  tangan dan kaki Nabi Muhammad ShallaAllah alihi wa sallam...” Al-hadits

Kedua, Abdullah bin Umar dan beberapa shahabat Nabi

Bahwasanya Abdullah bin ‘Umar bercerita kalau ia pernah berada di sebuah rombongan pasukan pengintai (sariyyah) Rasulullah Saw. Kemudian, pasukan melarikan diri dan saya termasuk di antaranya... Ibn ‘Umar berkata: “Kami kemudian mendekati Nabi dan mencium tangannya”. Nabi Saw. merespon dengan mengatakan: “saya adalah bagian dari umat muslim.”.

Ketiga, Yahudi Mencium Tangan dan Kaki Nabi

Ada seorang Yahudi berkata kepada temannya, Ajaklah kami kepada Nabi ini shallaAllahu alaihi wa sallam. Lalu ia berkata: kedua orang itu lalu mencium tangan Nabi seraya berkata, kami bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah subhanahu wa ta’ala.

B. Mencium Tangan Orang Alim
Ternyata kebiasaan mencium tangan juga dilakukan oleh para salaf terhadap ulama. Sebagaimana berikut:

Pertama, Zaid bin Tsabit Mencium Tangan Ibnu Abbas

Dari Ammar bin Abi Ammar bahwa Zaid bin Tsabit pernah mengendarai hewan tunggangannya, lalu Ibnu ‘Abbaas mengambil tali kekangnya dan menuntunnya. Zaid berkata : “Jangan engkau lakukan wahai anak paman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.

Ibnu ‘Abbaas berkata: “Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan (menghormati) ulama kami”. Zaid berkata : “Kemarikanlah tanganmu”. Lalu Ibnu ‘Abbaas mengeluarkan tangannya, kemudian Zaid menciumnya dan berkata : “Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan (menghormati) ahli bait Nabi kami shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.

Kedua, Ali Mencium Tangan dan Kaki Abbas

Ali ternyata juga mencium tangan dan kaki dari Pamannya; Abbas bin Abdul Muthalib:

Dari Shuhaib berkata, Saya melihat Ali RadhiyaAllahu anhu mencium kedua tangan Abbas atau kakinya dan berkata, Wahai pamanku! Berikanlah keridhaan kepadaku.

Ketiga, Muslim Mau Mencium Tangan dan Kaki Bukhari

Imam Muslim (w. 261 H) dulu juga ijin akan mencium kaki Kyainya; Imam Bukhari (w. 256 H):

Muhammad bin Hamdun berkata; Saya mendengar Imam Muslim saat bertandang ke Imam Bukhari berkata: “Biarkanlah Saya mencium kedua kakimu, wahai gurunya para guru, tuannya para muhaddits, dan dokternya hadits dalam mengetahui illatnya. (ad-Dzahabi, Siyar A’lam an-Nubala’, h. 10/100).

JIka dirasa kurang, Utsaimin (w. 1421 H) menjelaskan:

Dua orang itu (tamu Nabi) memang telah mencium kaki Nabi Muhammad shallaallahu alaihi wasallam, Nabi mengakuinya tanpa mengingkari. Maka, hukumnya boleh mencium tangan dan kaki seseorang karena kemuliaannya, sebagaimana mencium tangan dan kaki Bapak maupun Ibu, karena memang hak mereka. Inilah bentuk dari sikap tawadhu’. (Utsaimin, Syarah Riyadh as-Shalihin, h. 4/ 451).

Jadi mencium tangan orang yang dihormati bukanlah hal yang baru. Para sahabat, para ulama sudah biasa melakukannya. Kalo ada ustadz tak mau dicium tangannya, itu pilihan. Tapi tak harus pilihan itu tak harus menjadikan orang lain yang berbeda dianggap salah. Wallahua'lam

Ustadz Hanif Luthfi Lc., MA.

Sumber: Rumahfiqih.com