QuranBest (Free)

150juta++ halaman Al Quran telah dibaca

Dua Ibadah Agung di Hari Raya Idul Adha

Allahu akbar, Allahu akbar, La ilaha illallah, Allahu akbar, Allahu akbar, Walillahil hamd.

Kumandang takbir kembali lagi bergema di awal-awal Dzulhijjah hingga pagi ini. Disunnahkan bagi kaum muslimin untuk bertakbir mutlak di tempat-tempat umum sejak 1 Dzulhijjah. Lalu sejak Shubuh hari 9 Dzulhijjah disunnahkan bertakbir muqoyyad selesai shalat. Itu semua menunjukkan kita mengagungkan Allah di awal-awal Dzulhijjah ini dan semakin dekat kepada-Nya.

Ada dua ibadah besar dilakukan oleh kaum muslimin di awal Dzulhijjah, yaitu ibadah haji dan ibadah kurban.

Sejak 8 Dzulhijjah, jamaah haji sudah bersiap-siap mengenakan pakaian ihram, lalu mereka melakukan mabit di Mina. Pada tanggal 9 Dzulhijjah, mereka lantas menuju padang Arafah untuk melakukan wukuf mulai dari waktu Zhuhur hingga Maghrib. Lantas mereka beranjak menuju Muzdalifah untuk mabit di sana hingga waktu Shubuh. 

Setelah shalat Shubuh di Muzdalifah, di tanggal 10 tersebut, para jamaah haji berangkat menuju pelemparan jumrah untuk melempar jumrah ‘aqabah dengan tujuh batu sambil mengucapkan takbir. Setelah itu ucapan talbiyah yang diucapkan diganti dengan gema takbir di sekitar Mina.

Bagi yang punya kewajiban menyembelih kurban hadyu, maka mereka menyembelih juga saat itu. Rambut kepala setelah itu dicukur. Lalu jamaah haji pergi menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan thawaf rukun yaitu thawaf ifadhah.

Setelah itu pada hari-hari tasyriq dilaksanakan lempar jumrah yang tiga yaitu jumrah ula, jumrah wustha dan jumrah ‘aqabah.

Ibadah besar yang kedua adalah ibadah kurban di mana Allah perintahkan,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2)

Di antara tafsiran ayat ini adalah “berqurbanlah pada hari raya Idul Adha (yaumun nahr).”

Ibadah kurban ini dihukumi sunnah muakkad bagi yang tidak melakukan ibadah haji, dilakukan setelah shalat ‘Idul Adha hingga hari tasyriq kedua (12 Dzulhijjah) sebagaimana pendapat jumhur (mayoritas) ulama.

Hewan yang dipilih ketika kurban adalah hewan yang sempurna. Ini menunjukkan bahwa yang diinginkan adalah ketakwaan. Allah berfirman,

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37)

Cara penyembelihan yang dilakukan oleh Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam disebutkan dalam hadits-hadits berikut,

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anh, Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam biasa berkurban dengan dua gibas (domba jantan) putih yang bertanduk, lalu beliau mengucapkan nama Allah dan bertakbir, dan beliau meletakkan kedua kakinya di pipi kedua gibas tersebut (saat menyembelih). Dalam lafazh lain disebutkan bahwa beliau menyembelihnya dengan tangannya. Dalam lafazh Muslim disebutkan, saat menyembelih, beliau mengucapkan, “Bismillah wallahu akbar (artinya: dengan menyebut nama Allah dan Allah Maha Besar).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah, Nabi pernah memerintahkan agar diambilkan gibas (domba jantan) bertanduk, kuku dan perutnya hitam dan sekeliling matanya hitam. Lalu gibas tersebut dibawa ke hadapan beliau untuk dijadikan kurban. Beliau pun bersabda, “Asahlah dengan batu pengasah.” Kemudian ‘Aisyah mengasahnya dan Nabi membaringkan hewan tersebut lalu menyembelihnya. Saat menyembelih, beliau mengucapkan, “Bismillah, Allahumma taqobbal min Muhammad wa aali Muhammad, wa min ummati Muhammad (Artinya: dengan menyebut nama Allah, Ya Allah terimalah kurban ini dari Muhammad, keluarga Muhammad dan umat Muhammad).” (HR. Muslim)