QuranBest (Free)

150juta++ halaman Al Quran telah dibaca

Makna Kurban Dalam Surat Al Maidah

Telaah kata Kurban menurut Abu Fida’ dalam tafsir Ruh al-Bayan terambil kata derivasi kata Qarraba-Yuqorribu-Qurbanan, yang memiliki arti nama dari sesuatu yang dipersembahkan baik berupa hewan yang dipotong (dzabihah) maupun sedekah yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Kata kurban sendiri secara ekplisit disebutkan pada QS. Al-Ma’idah ayat 27, yaitu ketika menceritakan kisah kedua putra Nabi Adam yang bernama Habil dan Qabil yang sedang menyoal mengenai perjodohan di antara keduanya. Sehingga untuk melerai pertikaian di antara kedua putranya, Nabi Adam mendapat wahyu untuk memerintahkan kepada keduanya supaya melakukan ibadah kurban.

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Artinya: “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa.”

Pada kitab tafsir Ruh al-Bayan tersebut dijelaskan bahwa persembahan kurban pada waktu itu menggunakan dua media, yaitu pertama, Habil, berkurban dengan hewan ternak kambing yang terbaik di antara hewan-hewan yang lain, sedangkan yang kedua, Qabil, berkurban dengan menggunakan hasil panen kebunnya, hanya saja yang dipersembahkan hasil tanaman yang paling jelek. Alhasil, persembahan kurban dari keduanya yang diterima adalah kurban dari Habil, sang adik.

Satu riwayat dari Said ibn Jabir menceritakan bahwa tanda-tanda ibadah kurban yang diterima oleh Allah pada tempo dulu adalah turunnya Api tanpa uap/asap dari langit kemudian api tersebut menyelimuti kurban hewan kambingnya Habil dan selanjutnya diangkat ke dalam surga. Alkisah, kambing tersebut yang dipelihara di surga hingga menjadi tebusan (fida’) ketika proses berkurbannya Nabi Ibrahim atas anaknya Isma’il.

Meskipun sejarah ibadah kurban terdapat beberapa versi riwayat, namun patut kiranya peristiwa tersebut dijadikan uswah hasanah (teladan yang baik). Sebagai contohnya, dari peristiwa diterimanya ibadah kurbannya Habil dikarenakan ketulusan hati dalam menghambakan diri kepada Allah dan memberikan harta bendanya dengan ikhlas demi mencari ridha Allah.

Namun sebaliknya tidak diterima ibadah kurbanya Qabil dikarenakan ketidakpatuhannya pada perintah Allah dan mendermakan harta bendanya yang paling jelek karena hanya karena menuruti hawa nafsunya saja.

Oleh karena itu, bagi siapapun ketika hendak melakukan ibadah kurban sebaiknya menata hati dan niatnya supaya benar-benar dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah bukan karena tendensi yang lain.