QuranBest (Free)

150juta++ halaman Al Quran telah dibaca

Selamat Dari Maut Karena Bakti Pada Ibu

Dikisahkan, salah seorang ulama shaleh pernah bertutur: "Suatu hari saya keluar rumah menuju ke pinggiran sungai nil. Tiba-tiba mata saya melihat seekor kalajengking yang sedang merayap dengan cepatnya menuju pinggiran nil. 

Begitu sampai di pinggir sungai nil, tiba-tiba muncul seekor kura-kura (penyu) dari dalam air. Seolah sudah janjian, kalajengking itu kemudian naik ke atas punggung kura-kura tadi dan ia pun melewati sungai nil dengan selamat. Saya kemudian berpikir pasti ini ada rahasianya.

Tanpa berpikir panjang, sayapun mengikuti kalajengking tadi, pergi melewati sungai nil menuju pinggiran nil sebelahnya. Begitu sampai di bawah sebuah pohon yang rindang, saya melihat ada seorang pemuda yang sedang tidur dengan lelapnya di bawah pohon. Namun, di atas dadanya tampak seekor ular berbisa yang sudah siap mematuk dan menggigit pemuda tadi.

Ketika ular itu bermaksud menggigit dan memasukkan kepalanya ke dalam mulut si pemuda, tiba-tiba kalajengking tadi dengan gesitnya menyengat dan menggigit ular berbisa tadi. Terjadilah pergumulan dan perkelahian yang hebat antara seekor ular dengan seekor kalajengking. Namun, perkelahian tersebut dimenangkan oleh kalajengking; ular itu terluka terkena sengatannya dan tidak lama setelah itu, ular itu pun mati. 

Setelah melihat musuhnya mati, kalajengking itu lalu kembali menunggangi punggung penyu yang dari tadi dengan sabar menunggunya. Keduanya lalu kembali ke tempat semula, ke tepian sungai nil di sebelahnya.

Saya lalu berkata dalam diri saya: "Maha suci Allah, pasti pemuda ini adalah seorang wali Allah yang sangat shaleh". 

Saya lalu bergegas menemuinya. Namun begitu sampai, saya tambah kaget karena ternyata pemuda itu sedang dalam keadaan mabuk khamer. 

Di tengah rasa heran tersebut, tiba-tiba saya mendengar suara yang mengatakan: "Pemuda ini memang tidur, tapi Tuhan pemuda ini tidak pernah tidur". 

Begitu mendengar suara itu, saya langsung menangis tersedu-sedu sehingga pemuda itu terbangun.

Melihat pemuda itu terbangun, saya kemudian menceritakan apa yang telah terjadi dan kisah yang dilihatnya. 

Mendengar kisah dan penuturan dari saya, pemuda itu kemudian berkata: "Subhanallah, kalau betul apa yang kamu katakan, mengapa saya berlaku maksiat dan dosa kepadaNya".

Saya lalu bertanya: "Wahai pemuda, amal apa yang telah kamu perbuat sehingga dapat seperti tadi?".

Pemuda itu menjawab: "Sebenarnya, sepengetahuan saya, tidak ada yang istimewa dari perbuatan saya. Hanya saja memang, setiap kali saya hendak meminum khamer kesukaan saya, kemudian ibu saya memanggil untuk meminta air wudhu, saya selalu mendahulukan permohonannya dan tanpa berpikir panjang, saya tinggalkan khamer tadi dan bergegas menyiapkan air wudhu untuk ibu saya.

Di samping itu, setiap kali saya hendak pergi ke tempat penjualan khamer, kemudian saya melihat seorang ulama yang meminta saya untuk membantunya menaiki kendaraannya (kuda), saya selalu mendahulukan ulama tadi; saya pegang kudanya sehingga ulama itu dapat menaiki kudanya dengan mudah dan selamat.

Demikian juga, setiap kali saya hendak membayar khamer yang saya beli, lalu saya melihat pengemis yang meminta sesuatu dari saya, saya selalu mendahulukan dia dan selalu memberinya,  tidak pernah membiarkan pengemis itu putus asa dan merengek-rengek".

Saya lalu berkata: "Wahai pemuda, inilah kehebatan dan keistimewaan amal anda dan inilah yang saya cari".

Tidak lama setelah itu, saya mendengar kabar bahwa pemuda itu kini menjadi muslim yang baik, tidak pernah minum khamer lagi bahkan doanya sangat mujarab dan maqbul. (Kisah ini diambil dari buku berjudul Tuhfah al-Wa'izhin)