QuranBest (Free)

150juta++ halaman Al Quran telah dibaca

Saling Menasehati Dengan Lembut dan Santun

Sebagai manusia biasa yang tidak terlepas dari khilaf dan salah, tentu kita sangat membutuhkan peran orang lain untuk dapat mengingatkan di saat salah. Agama Islam adalah agama nasehat, setiap umat Islam akan senantiasa menasehati dan dinasehati, sehingga inilah yang menyebabkan umat ini menjadi yang terbaik.

Agar pesan-pesan yang disampaikan dapat diterima oleh orang lain, maka hendaknya seseorang mengetahui etika ketika menyampaikan nasehat. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

ٱذۡهَبَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلٗا لَّيِّنٗا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوۡ يَخۡشَىٰ 

“Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS. Taha: 43-44)

Pada ayat 43, Allah memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun untuk mendakwahi Fira’un, karena dia telah melampaui batas kufur, menentang dan durhaka kepada Allah, dengan ucapannya: “saya adalah tuhan kalian yang maha tinggi”.

Sedangkan ayat 44 merupakan sebuah metode berdakwah, yang dipraktekkan Nabi Musa dan Nabi Harun ketika mendakwahi Fir’aun. Cara yang digunakan oleh keduanya adalah Qaulan Layyina yaitu perkataan yang lemah lembut, tidak kasar, dan dengan penyebutan nama yang baik, dan tidak pula cacian.

Mengapa harus dengan cara yang lembut?

Hikmah dan pelajaran yang dapat diambil dari kisah tersebut, yakni jika orang seperti Fir’aun saja yang angkuh dan sombong, Nabi Musa yang menjadi pilihan-Nya masih diperintahkan berkata yang lembut dan santun, apalagi untuk mendakwahi selainnya yang tidak lebih dari Fir’aun.

Referensi: Tafsir Al-Munir, Syaikh Wahbah Zuhaili.