QuranBest (Free)

150juta++ halaman Al Quran telah dibaca

Isra' Mi'raj dalam Tinjauan Fiqih

Sejarawan menyebutnya dengan ‘am al-huzn/tahun duka cita, untuk menyebut tahun dimana Khadijah ummu al-mukminin istri tercinta Rasulullah wafat, dan itu terjadi persis sebelum kesedihan di hati baginda hilang, karena sebelum ini pamannya Abu Thalib juga meninggal dunia. Tak dibayangkan betapa sedihnya baginda ditinggal pergi kedua orang terkasih yang selama ini selalu hadir di kala suka maupun duka, menjadi pendukung setia pada saat sebagian besar menolak bahkan memusuhi baginda. Tahun yang dimaksud adalah tahun kesepuluh dari kenabian.

Mata boleh terus menangis, namun hati dan pikiran harus segera dikuatkan karena perjuangan masih panjang. Ditahun yang sama, Rasulullah kembali melanjutkan misi dakwahnya ke kota ketiga terpopuler setelah Mekah dan Madinah, yaitu kota Thaif. Terlebih bahwa penduduk Mekah sudah semakin merajalela sepeninggal pamannya. Dengan harapan di Thaif sana ada sambutan yang positif dari masyarakatnya, harapan itu semakin kuat terlebih karena perkampungan Bani Sa’ad, tempat di mana beliau disusukan dengan Halimah As-Sa’diyah berada tidak jauh dari kota ini.

Perjalanan ditemanai oleh bekas anak angkat beliau, yaitu Zaid bin Haritsah, sebagian menuliskan bahwa perjalanan ini ditempuh dengan berjalan kaki sejauh lebih kurang 80 km jika diukur dengan perjalanan sekarang dari Mekah ke Thaif. Beliau berangkat dengan berpayah-payah, hanya karena suatu harapan yang beliau gantungkan di langit sana. Namun semua kita mungkin sudah mengetahui ujung dari cerita ini bahwa kesedihan itu semakin menjadi-jadi, bahkan beliau malah dilempari oleh sebagian penduduk Thaif sampai berdarah-darah.

Menurut cerita Aisyah, seperti dalam riwayat Imam Al-Bukhari, inilah cerita hari-hari yang sangat sulit dalam hidup beliau selain dari hari-hari pada perang uhud. Bahkan dalam riwayat itu disebutkan, saking “jengkelnya” sehingga malaikat penjaga gunungpun ikut menawarkan kepada baginda bahwa dia siap untuk mengahancurkan penduduk Thaif dengan kedua bukit/gunung yang ada di Mekah. Tapi baginda dengan penuh sadar menolak tawaran itu sembari mengatakan: “Aku masih berharap bahwa kelak ada di antara keturunan mereka yang menyembah Allah dan tidak mempesekutukanNya”.

Inilah beberapa cerita perjuangan dan kesedihan hati yang dirasakan dan dialami oleh baginda Rasulullah SAW beberapa waktu sebelum akhirnya Allah memperjalankan kekasihNya dari Mekah ke Palestina hingga kemudian naik ke langit menjumpai Allah untuk mengambil syariat shalat lewat sebuah perjalanan Isra’ dan Mi’raj, yang tepat waktunya diperselihkan oleh para ulama, namun pendapat populer menyebut ini terjadi pada 27 rajab tahun kesepuluh kenabian.

Selanjutnya semua kaum muslimin sepakat bahwa peristiwa ini memang benar-benar terjadi, terlebih Al-Quran sudah memberikan penegasannya pada QS. Al-Isra’: 1, namun terkait detail kejadiannya dan segala peristiwa yang ada di dalamnya inilah yang diperselihkan oleh para ulama. Apakah dua peristiwa tersebut terjadi bersamaan, apakah peristiwa itu dengan jasad dan ruh atau hanya dengan ruh saja atau hanya sebatas mimpi, apakah semua yang dilihat Rasulullah dalam perjalan itu benar secara riwayat, dan sederet permasalahan lainnya yang diperselisihkan, terlebih banyak riwayat-riwayat lemah atau bahkan bohong yang berseleweran membersamai kisah perjalan ini, sehingga butuh agak sedikit selektif dalam menerima beberapa riwayat yang ada.

Dalam keilmuan fikih yang terpenting dan yang paling nyata serta paling enak diambil pelajarannya dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini adalah disyariatkannya shalat lima waktu sehari semalam, agungnya syariat shalat ini bahkan Allah “harus” mengundang Rasulullah ke langit, di saat syariat lainnya bisa cukup diwakilkan oleh Jibril untuk disampaikan.

Sepulangnya baginda dari langit pada subuhnya, ternyata di subuh itu Rasulullah belum melaksanakan kewajban shalat tersebut, begitu jelas Abu Bakr Utsman bin Muhammad Syattha Ad-Dimyathy Al-Bakriy (w. 1300 H.) dalam kitab Hasyiah I’anah At-Tahlibin, jilid 1, hal. 37. Ternyata dari langit sana belum ada penjelasan teknis shalat yang diwajibkan itu seperti apa. Barulah di Zuhurnya Rasulullah mulai melaksanakan kewajiban shalat yang sudah disyariatkan tersebut, begitu lanjut pengarang dalam kitab dan halaman yang sama.

Lebih lanjut, Imam An-Nawawi menuliskan pada bab mawaqit as-shalah/waktu-waktu shalat dalam kitabnya Al-Majmu’, jilid 3, hal. 18, menukil sebuah hadits yang cukup panjang riwayat Imam Abu Daud, Tirmidzi, dan pengarang kitab Sunan lainnya, juga riwayat Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, dan beliau (Al-Hakim) meyakini ini adalah hadits yang shahih, walaupun menurut Tirmidzi ini haditsnya hasan, dari sahabat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu.

Isyarat dari hadits ini bahwa keesokan harinya setelah Rasulullah diperjalankan hingga ke langit sana, dan subuhnya pulang kembali ke rumahnya, lalu malaikat Jibril datang kepada baginda untuk mengajarkan tatacara shalat dan waktu-waktunya tepat pada waktu zuhur bukan subuh, pengajaran ini berlangsung dua hari hingga esoknya lagi. Dari sinilah para ulama fikih akhirnya mempatenkan perihal waktu-waktu shalat di dalam kitab-kitabnya, mengingat pentingnya pengetahuan ini demi sahnya aktivitas shalat kita, sekaligus menjaga nilai sejarah di balik pensyariatan shalat yang dulunya Rasulullah terima untuk kita semua.   

Dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jibril mengimamiku di Ka’bah dua kali, Jibril shalat zuhur (bersamaku) pada hari pertama tepat pada saat matahari sudah tergelincir. (makna teks). 

Lalu shalat ashar dikerjakan pada saat bayangan suatu benda dua kali lipat dari bendanya.

Kemudian shalat magrib dikerjakan pada saat matahari terbenam saat di mana orang-orang berpuasa berbuka.

Kemudian shalat isya` dikerjakan pada saat mega merah (syafaq) hilang dari langit.

Lalu subuh dikerjakan pada saat munculnya fajar pada waktu di mana orang-orang berpuasa dilarang untuk makan.

Kemudian pada hari kedua Jibril datang lagi untuk mengajak Rasulullah shalat, Jibril tetap menjadi Imam, jika pada hari pertama Jibril datang mengajak shalat pada awal waktu, kali Jibril datang di akhir waktu:

Dan shalat zuhur pada hari kedua dikerjakan pada saat bayangan suatu benda seperti bendanya.

Kemudian shalat ashar ketika bayangan suatu benda dua kali lipat dari bendanya.

Kemudian shalat magrib dikerjakan persis pada waktu hari pertama.

Kemudian shalat isya` dikerjakan ketika sepertiga malam pertama sudah berlalu.

Lalu shalat subuh dikerjakan pada saat bumi sudah terang.

Setelah menjelaskan ini semua, terakhir Jibril menoleh kepada Rasulullah lalu berpesan:

 “Wahai, Muhammad, inilah waktu (shalat) para nabi sebelum kamu, dan waktu shalat tersebut adalah di antara dua waktu ini (awal dan akhir).”

Sumber: Rumahfiqih.com