QuranBest (Free)

150juta++ halaman Al Quran telah dibaca

Taubatnya Sang Pembunuh

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: :  “Pada masa dahulu kala, hiduplah seorang laki-laki yang telah membunuh 99 orang. Suatu hari ia hendak mengakhiri kejahatannya melalui taubat, lalu ia ditunjukkan pada seorang ‘abid (tukang beribadah hanya sayang tidak berilmu). 

Didatanginya ‘abid itu, lalu ia berkata: “Mungkinkah orang yang telah membunuh 99 jiwa dapat diterima taubatnya?” 

Si ‘abid menjawab: “Tidak, tidak akan diterima”. 

Mendengar jawaban itu, ia pun marah lalu ia membunuh ‘abid tadi sehingga genaplah seratus orang yang telah dibunuhnya. 

Lalu ia meminta orang-orang untuk menunjukkan seorang ulama yang paham agama, yang akan dijadikan tempat bertanya mengenai masalahnya itu. Ditunjukkanlah pada seorang ‘alim ulama saat itu. 

Tanpa panjang kata, didatanginya ulama itu lalu ia bertanya: “Mungkinkah saya yang telah membunuh seratus orang dapat diampuni segala dosa apabila bertaubat?” 

Si ‘alim menjawab: “Ya bisa diterima taubat kamu, hanya saja agar dapat merubah perbuatan jahatmu itu, kamu harus pergi ke suatu tempat di daerah anu  yang penduduknya semuanya menyembah Allah. Beribadah dan hiduplah beserta mereka dan janganlah kamu kembali ke tempat kamu karena tempat kamu itu adalah tempat yang penuh maksiat”. 

Pergilah orang itu ke tempat yang disebutkan si ‘alim. Namun di tengah  perjalanan, secara mendadak ia meninggal. Berselisihlah saat itu dua malaikat; antara malaikat rahmat dan malaikat ‘adzab. 

Malaikat rahmat berkata: “Ia pantas saya jemput karena ia datang dengan niat sepenuh hati untuk bertaubat dari seluruh perbuatan jahatnya”. 

Sementara malaikat ‘adzab berkata: “Dia lebih pantas saya jemput karena sekalipun dia telah bertaubat, akan tetapi belum ada sedikitpun kebaikan yang dilakukannya”. 

Ketika keduanya terus berselisih, datanglah seorang malaikat dalam wujud manusia memberikan jalan tengah untuk menengarai perselisihan itu. 

Malaikat itu berkata: “Ukurlah jarak antara yang telah dilaluinya dengan tempat yang hendak dituju. Seandainya jarak yang telah ditempuhnya masih jauh dari tempat yang dituju, maka ia milik malaikat ‘adzab sedangkan apabila jarak yang telah ditempuhnya lebih dekat ke tempat yang dituju, maka ia milik malaikat rahmat”.

Merekapun lalu mengukurnya dan setelah diukur ternyata sejengkal  lebih dekat ke tempat yang dituju, maka malaikat rahmatpun segera menyambutnya dengan bahagia”. (HR. Muttafaq ‘alaih).