QuranBest (Free)

150juta++ halaman Al Quran telah dibaca

Jangan Menghina Keyakinan atau Agama Orang Lain

وَلَا تَسُبُّوا۟ ٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّوا۟ ٱللَّهَ عَدْوًۢا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 108)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, Imam Abdurrazaq meriwayatkan dari Ma’mar, ia dari Qatadah: “Di zaman Nabi dulu, ada seorang muslim yang mencela sesembahan orang-orang kafir, lalu celaan tadi dibalas oleh orang kafir dengan berlebihan. Mereka mengolok-olok Allah dengan celaan yang amat dan tanpa didasari ilmu”.

Dari larangan mencaci sesembahan orang-orang kafir pada ayat tersebut, Imam Al-Qurthubi  menilai bahwa QS. Al-An’am: 108 merupakan bentuk bagian dari perdamaian. Ayat ini sebagai dalil wajibnya menerapkan kaidah Saddu ad-Dzara’I (mencegah terbukanya jalan kerusakan) dalam menyikapi suatu permasalahan. Dan terkadang seseorang juga perlu mengalah atas kebenaran atau hak yang dia miliki apabila tindakannya dalam mempertahankan haknya akan berdampak keburukan yang lebih besar.

Sejalan dengan kaidah di atas adalah pesan suci Rasulullah. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Termasuk dosa besar ialah seseorang memaki orang tuanya.” Ada seseorang bertanya, “Mungkinkah ada seseorang yang memaki orang tuanya sendiri?” Beliau bersabda, “Ya, ia memaki ayah orang lain, lalu orang lain memaki ayahnya dan ia memaki ibu orang lain, lalu orang itu memaki ibunya.” (Muttafaqun ‘alaih)