QuranBest (Free)

150juta++ halaman Al Quran telah dibaca

Perumpamaan Orang Yang Sedekah Karena Ridho Allah

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَمَثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمُ ٱبْتِغَآءَ مَرْضَاتِ ٱللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍۭ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَـَٔاتَتتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhoan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (QS. Al-Baqarah: 265)

Makna Ayat
Ketika Allah Subhanahu wa ta’ala menyebutkan tentang kerugian orang yang riya’ (pamer) dalam sedekahnya dan memperingatkan orang-orang beriman agar tidak melakukan seperti itu, Allah menganjurkan dan mendorong hamba-Nya untuk menginfakkan hartanya karena mengharap keridhoan Allah dan pahala akhirat yang ada di sisi-Nya.

Allah menyebutkan perumpamaan orang seperti itu dengan firman-Nya, “Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya hanya karena mencari keridhoan Allah dan keteguhan jiwa mereka.” Yaitu untuk meyakinkan diri mereka bahwa Allah benar-benar akan memberi pahala atas infak yang dikeluarkan, perumpamaan apa yang mereka dapatkan berupa keridhoan Allah dan pahala yang besar seperti kebun yang terletak di dataran tinggi.

Kebun itu mendapatkan curahan air hujan yang deras, maka buah yang dihasilkannya dua kali lipat dibandingkan kebun-kebun yang lain. Karena kebun itu terletak di dataran tinggi, jika tidak mendapat curah hujan yang besar, maka cukup dengan tetesan embun atau hujan rintik-rintik untuk menyiraminya, hingga akhirnya tetap menghasilkan buah yang berlipat ganda.

Kemudian Allah menutup firman-Nya, “dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” Allah menjanjikan bagi orang-orang yang berinfak dengan niat mencari keridhoan Allah dan menambah keyakinan dirinya, akan mendapatan pahala yang bersar dan balasan yang baik. Begitu juga Allah mengancam orang-orang yang berinfak dan setelahnya mengungkit-ungkit serta menyakiti hati penerimanya serta orang-orang yang berinfak karena riya dengan kesengsaraan dan kerugian.

[Aisarut Tafasir, Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi]