QuranBest (Free)

150juta++ halaman Al Quran telah dibaca

Hai Manusia, Mengapa Engkau Angkuh?

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ

خُلِقَ مِنْ مَّاۤءٍ دَافِقٍۙ 

يَّخْرُجُ مِنْۢ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَاۤىِٕبِۗ

“Maka hendaklah manusia memerhatikan dari apa dia diciptakan. Dia diciptakan dari air (mani) yang terpancar, yang keluar dari antara tulang punggung (sulbi) dan tulang dada.” (QS. At-Tariq: 5-7)

Allah mengingatkan tentang asal manusia. Pada ayat tersebut dikatakan bahwa manusia diciptakan dari ma’ dafiq yang biasa diterjemahkan dengan air (mani) yang terpancar yang keluar dari antara tulang punggung (sulbi) dan tulang dada. 

Kata dafiq mempunyai arti air yang memancar sendiri, tidak bisa ditahan yaitu air mani. seakan-akan ayat ini menyatakan kepada manusia “Hai manusia, engkau lemah, tidak memiliki kekuasaan. Air yang terdapat dalam dirimu sendiri, engkau tidak mampu menahan pancarannya. Itulah asal kejadianmu”.

Ali bin Abi Talib pernah berkata “Hai manusia, mengapa engkau angkuh? engkau diciptakan dari air yang hina, engkau berjalan membawa kotoran dalam perutmu dan badanmu -kelak jika engkau mati- akan menjadi bangkai yang menjijikkan.” Sekali lagi, tidak ada alasan bagi manusia untuk bersikap angkuh dan sombong pada manusia lainnya, karena semuanya sama, tercipta dari dasar materi dan proses yang sama, hina dan menjijikkan. Apalagi menyombongkan dirinya kepada Tuhan, Sang pencipta.

Selain untuk mengingatkan posisi hamba yang lemah di hadapan Tuhan, ayat ini sekaligus teguran untuk manusia yang sering menganggap dirinya lebih istimewa dari sesamanya, padahal asal dan awal manusia itu sama.

Mencari satu persamaan tampak menjadi cara yang efektif dalam menyikapi banyak perbedaan. Manusia yang tercipta dalam bentuk, rupa dan kemampuan yang berbeda-beda akan bisa memaklumi dan menerima keragaman lain di depannya, jika ia bisa menemukan satu saja persamaan dalam perbedaan tersebut, dalam hal ini yaitu asal mula adanya.

Al-Insan (manusia) memang kebanyakannya bodoh dan seringnya lupa. Al-Jilani mengakui ini dalam tafsirnya. Al-Insan bukan apa-apa, hanya kumpulan daging dan tulang belulang yang berasal dari air yang lemah dan hina, tidak punya kemampuan dan kekuasaan sedikitpun. Oleh sebab itu, senantiasa kita ingat dari mana kita berasal agar tahu kemana kita akan menuju. Jikalau lupa, mari saling mengingatkan, bukan saling menyalahkan.