QuranBest (Free)

150juta++ halaman Al Quran telah dibaca

Nabi Muhammad Sang Teladan

Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi dan Rasul sekaligus menjadi Uswah Hasanah (suri teladan yang baik) bagi umatnya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: 

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Untuk bisa mencintai dan meneladani kehidupan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara benar, tentunya kita harus mempelajari serta mengkaji sepak terjang beliau semasa hidupnya.

Salah satu misi kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memperbaiki akhlak (umatnya). Beliau diturunkan menjadi Nabi dan Rasul di suatu tempat yang masyarakatnya mengalami degradasi akhlak (moral, susila) yang luar biasa.

Masyarakat itu adalah kaum Quraisy di Mekah. Mereka adalah umat yang berselisih, terlantar, musyrik, penganut paganisme, saling berperang, dan membunuh. Beginilah kondisi umat kala itu, mereka tidak punya sejarah, prinsip, dan akhlak. Mereka seperti binatang, saling berperang hanya gara-gara urusan seekor kambing, saling memutuskan silaturahim, sujud kepada berhala dan menyembah patung.

Ketika Rasulullah diutus, beliau membebaskan mereka dan menjadikan mereka menjadi hamba Allah.

Untuk memperbaiki kebobrokan akhlak itulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus ke tanah Arab. Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.”

Allah pun memuji keluhuran akhlak beliau sebagaimana tergambar dalam QS Al-Qalam ayat 4 yang artinya, “Sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  pernah dihadapkan pada kepedihan, ketabahan, kesabaran, dan ujian agar menjadi teladan bagi manusia. Rasulullah pernah patah gigi depannya, kepalanya terluka, terjatuh dari kudanya, kehormatan, dan keluhurannya terlukai dan dihina, para sahabatnya dibunuh, dan menderita di perang Uhud. Namun, semua itu merupakan jalan untuk meninggikan kedudukan yang dipilih Allah untuknya. (Rawa’i Sirah, ‘Aidh Al-Qarni)

Itulah dimensi manusiawi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bisa mengalami peristiwa sebagaimana yang dialami seorang manusia biasa.

Maka, amat sangat pantaslah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kita dijadikan sebagai idola dan teladan dalam segala aspek kehidupan. Beliau tidak hanya berperan sebagai tokoh spiritual, tetapi juga sebagai guru atau konselor, panglima perang, kepala negara, arsitek peradaban, suami, dan ayah teladan.

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika seorang Michael H. Hart, pengarang The 100: A Ranking of The Most Influential Persons in History, menempatkan Nabi Muhammad di peringkat pertama manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah. Di bawah beliau bertengger Isaac Newton (peringkat dua), Yesus (peringkat tiga), Siddharta Gautama (peringkat empat), Kong Hu Cu (peringkat lima), dan yang lainnya.

Salah satu cara meneladani beliau adalah dengan mencintainya melebihi cinta kita kepada kedua orang tua, anak, dan semua manusia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda : “Tidak sempurna keimanan seseorang di antara kalian hingga ia lebih mencintai aku daripada kedua orang tuanya, anaknya, dan manusia semuanya.” (HR. Bukhari)