QuranBest (Free)

150juta++ halaman Al Quran telah dibaca

Akhlak Terhadap Diri

Berdasarkan firman Allah surat Asy-Syams ayat 9-10, ada dua sikap manusia dalam memperlakukan dirinya; pertama adalah mereka yang memperlakukan dirinya dengan sikap Mahmudah (akhak yang baik), sedang kedua bersikap Madzmumah (akhlak yang jelek). Kapan manusia dikategorikan bersikap mahmudah terhadap dirinya sendiri? Dan kapan manusia bersikap madzmumah terhadap dirinya?

“Sungguh telah beruntung orang yang membersihkan dirinya.“

Maka berdasar ayat tersebut orang yang berakhlak mahmudah terhadap dirinya adalah ketika ia mampu membersihkan jiwanya dari kotoran-kotoran. Makna membersihkan kotoran di sini bukan makna zhohiriah, yang dimaksud kotoran disini adalah segala sesuatu yang akan mencemari dan mengotori akidah dan keimanan yang dimiliki oleh seorang muslim.

Abu Bakar Jabir Al-Jazairi dalam kitabnya Minhajul Muslim mengungkapkan bahwa ada 4 langkah yang harus ditempuh oleh seorang muslim untuk membersihkan dirinya :

1. Taubat, tentu ketika seseorang ingin membersihkan jiwanya langkah pertama yang harus ditempuh adalah memohon ampun kepada Allah dari segala dosa yang telah ia perbuat. 

2. Al-Muroqobah, ketika seorang muslim sudah melaksanakan taubat maka langkah selanjutnya adalah mencoba untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ketika seseorang telah dekat dengan Allah maka ia semakin dekat dengan Ridha-Nya. Kedekatan kepada Allah bisa tercermin dari seberapa jauhnya ia bisa melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

3. Al-Muhasabah (introspeksi diri) untu mengetahui jauh dekatnya diri kita dengan Allah, tentu kiranya kita perlu kontrol terhadap apa yang telah kita lakukan. Maka Allah memerintahkan kepada kita untuk selalu bermuhasabah diri sebelum nanti dihisab oleh Allah.

4. Al-Mujahadah (bersungguh-sungguh) ketika kontrol diri telah berjalan, maka sikap terakhir yang harus dimiiki oleh seorang muslim adalah bersungguh-sungguh untuk mencapai keridha-an Allah. Ketika ia menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam beramal shalih maka tentu ia akan bersegera untuk menggapai Ridha Allah.

“Dan sungguh celaka orang yang mengotori jiwanya.”

Sikap yang kedua adalah sikap Madzmumah (akhlak jelek). Kotornya jiwa seseorang adalah tatkala ia mencampurkan ketauhidan dengan kemusyrikan, sunnah dengan bid’ah, ikhlas dengan riya, keimanan dengan kedzaliman. Ada beberapa penyakit jiwa yang sangat berperan dalam mengotori jiwa seseorang.

1. Musyrik, ini adalah dosa yang paling berperan dalam mengotori jiwa seseorang, bahkan Allah mengancam tidak akan mengampuni bila seseorang berbuat kemusyikan (Q.s an-Nisa, 4: 48).

2. Riya, perbuatan ini adalah suatu penyakit yang paling membahayakan bagi keimanan seseorang. Kenapa disebut paling membahayakan, karena sikap ini kadangkala tidak terasa oleh orang yang melakukannya. Rasulullah pernah besabda “Yang paling aku takutkan menimpa umatku adalah adanya Syirik kecil, yaitu ‘Riya’.” (Muttafaq ‘Alaih).

3. Dzalim, adalah pebuatan yang paling sering dilakukan oleh seseorang. Dzalim adalah menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya. Ketika seseorang sudah mengabaikan kewajiban ia untuk menyembah Allah maka ia telah berbuat satu kedzaliman. Ketika seseorang menyalahgunakan fungsi salah satu anggota tubuhnya maka ia juga telah berbuat kedzaliman.

4. Hasud, sikap ini juga merupakan satu penyakit yang membahayakan bagi keimanan seseorang, karena dengan sikap ini akan memusnahkan segala amal shalih yang telah dilaksanakan oleh seseorang. Rasulullah juga sangat mewanti-wanti agar seorang muslim bisa menjauhi sikap hasud ini.

Itulah sebagian dari penyakit-penyakit yang akan mengotori jiwa seseorang. Apabila kita terpedaya oleh sikap-sikap di atas niscaya kita akan termasuk kepada orang-orang yang merugi.

Itulah kandungan ayat 9 dan 10 dari surat asy-Syams yang menjelaskan tentang adanya dua sikap manusia dalam memperlakukan dirinya sendiri, wallahu `alam bish-shawab