QuranBest (Free)

150juta++ halaman Al Quran telah dibaca

Membebaskan Sang Pemuda Yang Terlilit Hutang

Bagi generasi salaf, keteladanan yang telah dicontohkan Rasulullah selalu membekas dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk soal ajaran untuk gemar bederma dan menyedekahkan sebagian harta bagi dhuafa.

Hal ini pulalah yang mendasari kedermawanan seorang tokoh tabiin terkemuka, yakni Abdullah Ibnu Al-Mubarak.

Konon, seusai pulang pergi dari Tharasus dan biasanya saat di tengah perjalanan bila hari telah menjelang malam, ia segera singgah beristirahat di sebuah penginapan. Di penginapan itu, ada seorang pelayan muda yang biasa mengurus kebutuhannya.

Pemuda tersebut menarik perhatian Ibnu Al-Mubarak. Ini lantaran sang pemuda itu adalah sosok yang rajin dan haus ilmu. Ia tak segan-segan belajar dan menimba ilmu kepada Ibnu Al-Mubarak. Pekerjaannya sebagai pelayan tidak menghalangi untuk terus dan terus mempelajari hadis.

Hingga suatu hari, Ibnu Al-Mubarak kembali singgah ke penginapan itu, namun tidak mendapati pemuda tersebut. Saat itu ia memang sangat tergesa-gesa untuk berperang bersama tentara Islam, sehingga tidak sempat menanyakan hal itu.

Setelah pulang dari peperangan dan kembali ke penginapan, ia segera menanyakan perihal pemuda tersebut. Orang-orang memberitahukan padanya bahwa pemuda itu kini tengah ditahan karena terlilit hutang yang belum dibayarnya. Maka, demi mendengar penjelasan itu, beliau segera bertanya, “Berapakah besar utangnya, sampai ia tak mampu membayarnya?”

“Sepuluh ribu dirham,” jawab mereka.

Kemudian beliau pun segera menyelidiki dan mencari si pemilik utang itu. Setelah mengetahui orangnya, beliau lantas menyuruh seseorang untuk memanggil orang tersebut pada malam harinya. Setelah orang itu tiba, Ibnu Al-Mubarak langsung menghitung dan membayar seluruh utang pemuda tersebut.

Namun, segera ia berpesan, agar pemilik utang tidak menceritakan kejadian ini kepada siapa pun selama beliau masih hidup. Dan orang itu pun menyetujuinya. Dan akhirnya Ibnu Al-Mubarak berkata, “Apabila pagi tiba, segera keluarkan pemuda itu dari tahanan.”

Pagi harinya, Abdullah bin Al-Mubarak pun segera bergegas pergi sebelum pemuda itu dibebaskan. Pemuda itu kembali ke penginapan. Orang-orang yang melihatnya langsung berkata, “Kemarin Abdullah bin Al-Mubarak ke sini dan menanyakan tentang dirimu, namun saat ini dia sudah pergi lagi.” Kini yakinlah pemuda itu bahwa Abdullah bin Al-Mubarak yang telah membebaskannya.

Maka segera ia menelusuri jejak Abdullah dan berhasil menjumpai beliau kira-kira dua-tiga marhalah (sata marhalah kira-kira dua belas mil) jauhnya dari penginapan. Setelah Abdullah bin Mubarak melihat pemuda itu, beliau lantas berkata, “Kemana saja engkau anak muda? Mengapa aku tak pernah melihatmu lagi di penginapan?”

Pemuda itu lantas menjawab, "Benar wahai Abu Abdurrahman (Ibnu Al-Mubarak), saya memang baru saja ditahan karena terlilit hutang." “Lalu bagaimana engkau dibebaskan?" tanya Ibnu Al-Mubarak.

”Seseorang telah datang membayar seluruh utangku, hingga aku bisa dibebaskan. Namun, sampai saat ini aku tidak tahu, siapa orang yang telah menolongku," tutur pemuda itu lagi.

Sebenarnya, di balik jawaban dan pernyataannya, dia berharap Ibnu Al-Mubarak mengakui dugaannya. Bahwa Ibnu Al-Mubarak yang telah membebaskannya.

Sayangnya, Ibnu Al-Mubarak justru berkata, "Wahai Pemuda, bersyukurlah engkau kepada Allah SWT yang telah memberikan taufik-Nya kepadamu, sehingga bisa terlepas dari hutang."

Pemuda pelayan penginapan lantas kembali ke tempatnya bekerja. Tentu saja tanpa membawa jawaban dari semua rahasia pembebasan dirinya. Sedangkan orang pemberi hutang, tidak pernah mengatakan kepada siapa pun tentang jasa Ibnu Al-Mubarak yang membayar hutang pemuda pelayan penginapan, sampai Ibnu Al-Mubarak wafat.