QuranBest (Free)

150juta++ halaman Al Quran telah dibaca

Kisah Dua Orang Pemuda dan Seguci Emas

Di masa lalu sebelum era keislaman, hidup dua orang sholeh yang sangat wara. Mereka sangat jujur, amanah, dan tak mudah terperdaya oleh harta dunia. Keduanya pun kemudian dipertemukan dalam sebuah muamalah.

Suatu hari, dua pria soleh itu bertransaksi jual beli tanah. Seseorang membeli sebidang lahan dari yang lain. Kesepakatan terjalin, keduanya pun bertransaksi, kemudian berpisah.

Beberapa hari berikutnya, pria yang membeli tanah mendatangi si penjual. Bukan untuk komplain tentang tanah yang ia beli, melainkan ia ingin memberikan seguci emas. Ada apa gerangan? Bukankah dia sudah membayar tunai tanah sesuai perjanjian jual beli.

Ternyata, si pembeli telah menemukan seguci emas itu terpendam dibawah tanah yang ia beli. Saat menggalinya, emas-emas itu ditemukan. Ia pun bermaksud mengembalikan emas itu karena di pikirnya emas itu merupakan harta si pemilik tanah yang lupa tak diambil ketika menjual tanah.

“Ambillah emasmu, aku hanyalah membeli tanah darimu, bukan membeli emas,” ujar si pembeli kepada si pemilik tanah.

Namun, ternyata seguci emas itu bukan milik si penjual. Ia hanyalah pemilik tanah itu, bukan beserta emas didalamnya. Ia pun baru tahu bahwa di bawah lahannya terpendam harta yang jumlahnya banyak.

Seperti halnya kejujuran si pembeli menemukan harta terpendam, si pemilik tanah pun berkata jujur bahwa ia bukan pemilik emas itu. Ia pun menyerahkan kembali emas itu pada si pembeli. “Aku menjual tanah kepadamu beserta isinya,” ujar si pemilik tanah.

Inilah sikap orang sholeh, mereka bukan berebut harta seperti kebanyakan orang. Keduanya justru saling menyerahkan harta itu karena takut itu bukanlah hak mereka. Kebingungan pun melanda mereka. Akhirnya, keduanya menemui seorang qadhi (hakim) untuk memutuskan perihal seguci emas itu.

Mendengar kisah keduanya, qadhi pun kebingungan. Tapi, ia takjub pada kedua orang sholeh yang sama-sama berakhlak mulia. Qadhi pun seorang yang bijak, ia tidak mungkin sembrono memutuskan sesuatu. Ia kemudian berpikir keras untuk memecahkan masalah keduanya seadil-adilnya. 

Sang qadhi pun kemudian menemukan sebuah solusi yang akan menyenangkan kedua pihak. Ia pun bertanya pada dua pria sholeh itu, “Apakah kalian berdua memiliki anak?” Tanyanya.

Seorang berkata, “Saya memiliki seorang anak laki-laki” ujarnya. Sementara, seorang yang lain berkata, “Saya memiliki seorang anak perempuan” tuturnya. Maka, diputuskanlah perkara yang sangat agung. Qadhi berkata, “Nikahkanlah anak-anak kalian itu dan berilah mereka kecukupan dengan seguci emas ini. Bersedekahlah kalian dengan harta ini” putus qadhi.

Giranglah keduanya dengan putusan tersebut. Kedua orang sholeh itu sangat gembira akan menjadi besan. Maka, dilangsungkanlah pernikahan putra-putri dari bapak-bapak yang sholeh. Anak-anak mereka pun pasangan yang pas, sholeh dan sholehah. Pasangan itu membangun rumah tangga dengan harta seguci emas itu. Kedua pria sholeh itu pun gembira. 

Kisah tersebut kurang lebih diambil berdasarkan kabar dari Rasulullah melalui hadisnya yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah.