QuranBest (Free)

150juta++ halaman Al Quran telah dibaca

Jadilah Seperti Anak Adam

As-Suddi, salah satu penafsir terkemuka menuturkan, seperti yang dikutip oleh Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir Al-Quran Al-Azhim jilid 3, hal. 82, dari Abu Malik dari Abu Shaleh dari Ibnu Abbas dari Murrah dari Ibnu Mas’ud dari banyak sahabat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam bahwa dahulunya Hawa istri Adam Alaihis salam selalu di karuniai anak kembar setiap kali melahirkan; laki-laki dan perempuan, dan syariat yang berlaku pada waktu itu menghendaki dibolehkannya menikah sesama saudara, karena memang pada waktu itu bumi ini hanya diisi oleh mereka saja.

Mekanismenya adalah laki-laki dan perempuan yang lahir kembar tersebut tidak menikah sesama mereka, melainkan menikah dengan laki-laki dan perempuan dari sudara kembar yang lainnya. Hingga sampailah pada waktunya Adam memiliki anak yang bernama Qabil dan Habil. Qabil mempunyai kembaran saudari perempuannya, dan Habil juga mempunyai kembaran saudari perempuannya. Dan konon katanya kembarannya Qabil sedikit lebih cantik dari pada kembarannya Habil.

Habil bermaksud menikahi kembarannya Qabil, selain karena cantik, niat baik ini direstui juga oleh ayahnya Adam Alaihis salam. Namun Qabil tidak terima itu, karena pada saat yang sama Qabil juga jatuh hati pada kembarannya yang memang lebih cantik dari kembarannya Habil, terlebih bahwa Qabil lahir sebelum Habil, ego seorang kakak tidak boleh kalah lawan “rengekan” seorang adik, apalagi dalam urusan cinta.

Solusi yang ditawarkan adalah keduanya (Qabil dan Habil) harus mempersembahkan kurban kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, kurban yang diterima ialah yang berhak menikahi kembarannya Qabil. Sebagai pemilik kebun Qabil menyiapkan kurbannya berupa tanam-tanaman, dan sebagai pemilik hewan ternak Habil juga menyiapkan hewan terbaik untuk dikurbankan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Singkat cerita ternyata kurbannya Habil diterima, rupanya Habil sudah mempersembahkan hewan yang ternak yang paling baik, dia mempersembahkan itu dengan hati yang baik pula, berbeda dengan Qabil kakaknya, ternyata usut punya usut Qabil mempersembahkan kurbannya dengan kualitas ala kadarnya, itupun dengan hati yang sedikit menggerutu.

Tidak terima dengan kenyataan bahwa kembarannya akan dinikahi oleh Habil, Qabil berniat membunuh adiknya sendiri. Sebenarnya Habil bisa saja melawan, apalagi Habil jelas-jelas berada di pihak yang benar, namun atas nama saudara, lahir dari ibu dan ayah yang sama, Habil menyadari bahwa “ribut” sesama saudara tidak ada yang untung, yang kalah maupun yang menang sama-sama buntung, begitu kata orang bijak.

Sikap tidak mau ribut itu diabadikan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam Al-Quran sebagai pelajaran hidup yang sangat berharga dan tak akan pernah pudar dimakan waktu, persaudaraan diatas segalanya, hidup damai dan harmonis diutamakan ketimbang ego untuk menang lawan saudara sendiri.

لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

"Sungguh kalau kamu (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku (Habil) untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam." (QS. Al-Maidah: 28)

Mengomentari ayat ini, patut disimak sebuah hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam dalam riwayat Imam Ahmad, dari kesaksian sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash, bahwa Rasululllah Shalallahu alaihi wasallam pernah bersabda:

"إِنَّهَا سَتَكُونُ فِتْنَةٌ، الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْقَائِمِ، وَالْقَائِمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَاشِي، وَالْمَاشِي خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي"

“Akan tiba suatu saat nanti zaman yang penuh fitnah, orang yang duduk saat itu lebih baik dari pada orang yang berdiri, dan orang yang berdiri lebih baik dari pada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik dari pada orang yang berlari”

. قَالَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ دَخَلَ عَلَيَّ بَيْتِي فَبَسَطَ يَدَهُ إليَّ لِيَقْتُلَنِي

Lalu sahabat Saad bin Abi Waqqash bertanya: “Bagaimana jika ada orang yang masuk rumahku dan dia hendak membunuhku?” Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam menjawab:

"كُنْ كَابْنِ آدَمَ"

“Jadilah seperti anak Adam (Habil)”

Memang sulit bagi kita untuk memastikan kapan terjadinya zaman yang penuh fitnah itu. Namun, para ulama tafsir selalu menyandingkan hadits ini dan hadits-hadits yang senada lainnya dengan ayat Al-Quran yang menceritakan tragedi pembunhan dua bersaudara; Qabil dan Habil. Mungkin ini isyarat yang difahami oleh para ulama bahwa zaman fitnah itu adalah zaman dimana sesama saudara saling caci, saling benci, saling iri, saling hasut, saling adu mulut, saling ribut, hingga sampai pada tahap saling membunuh.

Dalam waktu yang bersamaan Al-Quran juga menyebut bahwa sesama muslim adalah bersaudara (QS. Al-Hujurat: 10), walau bersaudara namun akhir-akhir ini sangat terasa sekali aroma permusuhan sesama kita, seakan mudah sekali mulut kita berucap bahwa si fulan salah, si fulan begok, si fulan sesat, si fulan kafir, hanya kelompok kami yang benar, hanya kelompok kami yang boleh berfatwa, dst.

Ini zaman dimana “ribut” dinomor satukan ketimbang saling memahami, ini zaman di mana perkara khilaf dijadikan perkara ijma’, sehingga satu kelompok yang berbeda dengan kelompoknya pasti dianggap salah. Ini zaman dimana “orang lain” lebih dicintai ketimbang saudara sendiri, ini zaman dimana pedang lebih mudah menggorok saudara sendiri ketimbang musuh yang jelas-jelas nyata.

Mungkinkah ini zaman yang dimaksud oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam? Tidak ada yang bisa memastikan. Namun, kondisi seperti ini adalah kondisi yang dirasa sangat sulit, kondisi serba salah, bagaimana cara memaknai bahwa orang yang duduk lebih baik dari pada orang yang berdiri, dan orang yang berdiri lebih baik pada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik dari pada orang yang berlari?

Sebenarnya penulis tidak sanggup untuk melanjutkannya, hanya saja jika boleh melanjutkan, mungkin maksudnya bahwa dalam kondisi zaman penuh fitnah ini sebaiknya lebih memilih diam dan tidak turut dalam gelombang saling fitnah, menahan diri untuk tidak saling menghujat dan melaknat atas perilaku saudara sendiri yang belum jelas benar dan salahnya, dan tetap teduh saling meluruskan dengan cara-cara yang baik jika memang ada yang salah diantara kita, jikapun harus aktif dalam gelombang perlawanan, maka semuanya harus benar-benar diperhitungkan, rapi, dan tidak membuat air tambah keruh, sehingga khawatir kekeruhan itu membuat kita tidak bisa membedakan mana kawan dan mana lawan.

Cerita Habil adalah cerita dimana yang terbunuh jauh lebih mulia dari pada yang membunuh. Sesama saudara, Habil lebih memilih jalur damai walaupun sebenarnya Habil berada dalam pihak yang benar. Berdamai dengan sesama saudara harus terus diusahakan, karena jika umat ini sudah bersatu, mudah bagi kita melawan musuh.

Sumber: Rumahfiqih.com