QuranBest (Free)

150juta++ halaman Al Quran telah dibaca

Kematian Seperti Apa Yang Kita Pilih?

Setiap kita pasti mengenal Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits, beliau meriwayatkan sekitar 5374 hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau juga adalah sahabat yang setia menemani sang Nabi. Hingga Nabi memujinya sebagai sahabat yang sangat semangat menuntut ilmu.

Sewaktu sakit menjelang wafatnya, Abu Hurairah sempat menangis. Ketika ditanya, beliau berkata, “Aku menangis bukan karena memikirkan dunia, melainkan karena membayangkan jauhnya perjalanan menuju akhirat. Aku harus menghadap Allah, Rabb yang Maha Kuasa. Namun aku pun tak tahu perjalananku ke surga tempat kenikmatan atau ke neraka tempat penderitaan.”

Apa yang telah membuat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menangis sebelum wafatnya, bukan karena ditolak wanita cantik, atau karena belum menikmati harta yang banyak, akan tetapi beliau khawatir kurangnya bekal yang akan ia bawa ke kampung akhirat. Kematian adalah perkara yang pasti, ia adalah tamu bagi setiap makhluk yang bernyawa. 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surah Al-Anbiya` ayat 34-35:

وَمَا جَعَلۡنَا لِبَشَرٖ مِّن قَبۡلِكَ ٱلۡخُلۡدَۖ أَفَإِيْن مِّتَّ فَهُمُ ٱلۡخَٰلِدُونَ ٣٤ كُلُّ نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ٣٥

”Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.”

Kematian akan datang tak peduli meskipun mereka yang saling mengasihi dan mencintai. Yang kaya ataupun miskin, muda atau yang tua, yang sehat atau yang sakit, ia telah banyak menarik paksa para raja dari singgasananya menuju lubang kecil bernama liang lahat.


Maka, kematian sepeti apa yang kita pilih?
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang wafat di atas sebuah amalan, maka ia akan dibangkitkan dengan keadaannya itu.” Imam Al-Munawi berkata, “Yakni, bahwa seseorang itu akan meninggal sesuai dengan kebiasaan amalannya ketika hidup dan ia juga akan dibangkitkan dalam keadaan seperti itu.”

Dengan demikian, jika kita hendak memilih wafat dalam keadaan yang baik, sebagai hamba yang taat, maka amalan-amalan yang kita pakai untuk menghabiskan waktu-waktu kita hendaknya dengan amaan-amalan shalih, amalan yang lahir dari ketakwaan kita kepada Allah, yang selaras antara amalan zhahir dan bathin kita (amalan hati).